katanya televisi dan masyarakat bersahabat, dan sahabat pasti berani mengkrtikik. masyarakat berhak mengkritik sahabatnya itu dan televisi seharusnya menyadari kritikan sahabatnya.
program tayangan reality show menuai protes dan komplain, tak hanya seputar real atau tidak real lagi. style tipikal reality show yang belakangan ini seragam menjual kemarahan berlebihan hingga disertai kekerasan fisik dan menimbulkan keresahan dikalangan masyarakat yang kadarnya melebihi dari sekedar meragukan keaslian tanyangan reality show tsb.
berikut ini tanggapan dari kalangan intelektual / akademisi yang mewakili dari masyarakat penikmat tayangan televisi :

keseragaman tayangan ini menjadi lomba antar sasiun tv, lomba mencari perhatian penonton tv. indikasi keseragaman bisa dilihat dari materi yang di suguhkan, tidak jauh dari cari pacar, memata-matai, dan mengetes pacar. lantas bermuara pada melabrak pacar atau wanita penggoda. dan saat ini sudah lebih jauh lagi kepada urusan rumah tangga, suami istri, orang tua melawan anak dan seterusnya. mengumbar aib dan pertengkaran menjadi tayangan yang ditonton oleh seluruh penikmat tv gak peduli apakah itu anak-anak atau orang dewasa.
efeknya buruk tidak serta merta bisa dirasakan tetapi lama kelamaan masyarakat akan sadar bahwa televisi seolah-olah memandang hidup hanya melabrak dan menanggapi labrakan dengan melabrak balik tidak lebih.
kalau mau kembali pada definisi reality show ada yaiu:
1. mendokumentasikan peristiwa apa adanya.
2. merekontruksi peristiwa menurut kronologinya
saat ini reality show malah mengaburkan batasan rekontruksi peristiwa dan seni dokumenter.
garin nugroho (sineas dan pengamat tv)

lalu pertanyaannya sekarang…masih layakkah reality show untuk ditayangkan…? dan apakah tayangan itu mendidik…?

Mereka Kembali…

18/07/2009

ya itulah judul yang ku gunakan untuk menulis kegelisahan dan kegundahan hati ini terhadap apa yang terjadi dijakarta pada saat kota ini akan mempunyai event yang bersejarah dalam dunia olah raga…
tapi Mereka yang tidak mempunyai tanggung jawab, dan tidak mempunyai rasa peri kemanusiaan menghancurkan semua harapan bangsa ini dalam sekejap saja….Mereka telah kembali untuk merusak semua tatanan kehidupan bangsa ini yang telah dibangun untuk kemajuan bangsa dan negara…siapa mereka…apa yang mereka cari…dan untuk apa mereka lakukan itu…kalau hanya simpati untuk satu golongan tertentu..saya pikir bukan simpati yang didapat tetapi..hinaan dan makian dari masyarakat…
bertaubatlah kau …..demi tuhan tidak ada manfaat apapun yang kau dapat dari apa yang kau perbuat wahai mereka yang telah merusak dan membunuh sesama manusia….
semoga mereka dapat balasan yang setimpal di akhirat nanti…

ada seorang budayawan berbicara diforum dialog yang di adakan oleh salah satu LSM tentang tenaga kerja Indonesia di negeri Jiran Malaysia. pada saat itu Sang Budayawan itu bercerita begini

ada sebuah kapal laut yang sedang berlayar dilautan, dikapal laut itu berisi antara lain warga negara Indonesia dengan membawa gula impor, warga negara Thailand dengan membawa hasil buah-buahannya, dan warga negara Malaysia dengan membawa Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

pada saat ditengah laut ternyata kapal tsb kelebihan beban dan diperkirakan akan tenggelam apabila para penumpang tidak mengurangi barang bawaan mereka ungkap Kapten kapal itu.
lalu para penumpang mengurang barang bawaan mereka dengan membuang kelaut, yang pertama warga negara Indonesia membuang sebagian gula import mereka,…lalu warga negara Malaysia bertanya …mengapa gula yang dibuang kelaut? lalu orang Indonesia menjawab …karena gula banyak dinegara saya…

kemudian orang Thailand membuang hasil buah-buahannya,..dan orang Indonesia bertanya …mengapa buah-buahannya dibuang kelaut? …orang Thailand pun menjawab…karena buah-buahannya banyak dinegara saya contahnya jambu bangkok, mangga bangkok, dan pepaya bangkok…
dan yang terakhir orang Malaysia dengan terpaksa membuang TKI nya kelaut…lalu orang Thailand bertanya mengapa TKI itu dibuang kelaut….dan dengan lantang orang Malaysia itu menjawab…karena TKI sudah banyak dinegara saya…

dari cerita diatas bukan bermaksud melecehkan TKI kita dinegeri orang…tetapi begitu menderitanya TKI dalam menjalankan hidup ini..sudah jauh dari keluarga disiksa..dihina…dan mungkin diintimidasi dan dilecehkan…demi untuk menghidupi keluarga…

dinegara sendiri mereka(TKI) adalah penyumbang aset pendapatan negara yang paling besar…tetapi apa jadinya ketika sudah dinegeri orang….

akankah semua ini akan berakhir dan tidak akan pernah terjadi lagi…??