Reality Show Dan Pandangan Masyarakat
19/07/2009
katanya televisi dan masyarakat bersahabat, dan sahabat pasti berani mengkrtikik. masyarakat berhak mengkritik sahabatnya itu dan televisi seharusnya menyadari kritikan sahabatnya.
program tayangan reality show menuai protes dan komplain, tak hanya seputar real atau tidak real lagi. style tipikal reality show yang belakangan ini seragam menjual kemarahan berlebihan hingga disertai kekerasan fisik dan menimbulkan keresahan dikalangan masyarakat yang kadarnya melebihi dari sekedar meragukan keaslian tanyangan reality show tsb.
berikut ini tanggapan dari kalangan intelektual / akademisi yang mewakili dari masyarakat penikmat tayangan televisi :
keseragaman tayangan ini menjadi lomba antar sasiun tv, lomba mencari perhatian penonton tv. indikasi keseragaman bisa dilihat dari materi yang di suguhkan, tidak jauh dari cari pacar, memata-matai, dan mengetes pacar. lantas bermuara pada melabrak pacar atau wanita penggoda. dan saat ini sudah lebih jauh lagi kepada urusan rumah tangga, suami istri, orang tua melawan anak dan seterusnya. mengumbar aib dan pertengkaran menjadi tayangan yang ditonton oleh seluruh penikmat tv gak peduli apakah itu anak-anak atau orang dewasa.
efeknya buruk tidak serta merta bisa dirasakan tetapi lama kelamaan masyarakat akan sadar bahwa televisi seolah-olah memandang hidup hanya melabrak dan menanggapi labrakan dengan melabrak balik tidak lebih.
kalau mau kembali pada definisi reality show ada yaiu:
1. mendokumentasikan peristiwa apa adanya.
2. merekontruksi peristiwa menurut kronologinya
saat ini reality show malah mengaburkan batasan rekontruksi peristiwa dan seni dokumenter.
garin nugroho (sineas dan pengamat tv)
lalu pertanyaannya sekarang…masih layakkah reality show untuk ditayangkan…? dan apakah tayangan itu mendidik…?

